Anak anggota DPRD Bekasi diduga memerkosa dan menjual remaja

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) juga menyoroti dugaan pemerkosaan terhadap gadis berinisial PU oleh putra anggota DPRD Kota Bekasi, AT (21). (15).

Kompolnas mendesak Polres Metro Kota Bekasi yang menangani kasus tersebut segera menangkap tersangka pelaku karena berisiko kabur.

“Kerja cepat penyidik ​​sangat diharapkan, mengingat kemungkinan terlapor akan melarikan diri, merusak barang bukti, dan melakukan tindak pidana lain,” kata Kombes Pol Poengky Indarti saat dihubungi Rabu (21/4/2021).

Poengky memohon kepada penyidik ​​Polda Metro Bekasi untuk bersikap profesional dalam menangani kasus tersebut, dengan alasan ayah tersangka adalah anggota DPRD.

“Saya berharap penyidik ​​profesional bisa melakukan sidik jarinya dalam kaitannya dengan penyidikan tindak pidana ilmiah,” kata Poengky.

Poengky menegaskan, setiap orang, termasuk polisi, bertanggung jawab melindungi anak sebagai korban, baik dari kekerasan, pemerkosaan, maupun perdagangan anak di bawah umur untuk prostitusi.

Akibatnya, polisi juga wajib melindungi anak korban dengan melakukan penyidikan secara profesional dan transparan, ”jelas Poengky.

Meski identitas tersangka pelaku sudah diketahui, polisi belum bisa menangkapnya.

Polisi baru berniat memanggil tersangka pelaku, yang sampai saat ini belum diberi tahu.

Sebelumnya, keluarga PU melayangkan dugaan pelecehan seksual terhadap AT ke Polres Metro Bekasi Kota.

LF (47), ibu korban, membenarkan bahwa pelaku adalah anak salah seorang anggota DPRD Kota Bekasi.

“Iya itu (tersangka pelaku) anak anggota DPRD Kota Bekasi,” ujarnya, Rabu (14/4/2021), sebagaimana dikutip Tribun Jakarta.

LF menjelaskan, kecurigaannya terhadap perilaku asusila bermula saat putrinya berselingkuh dengan AT.

Mereka telah berpacaran selama kurang lebih sembilan bulan.

“Jadi anak saya pacaran dengan pelaku kurang lebih sembilan bulan,” jelas LF.

Selama menjalin hubungan asmara, korban kerap menjadi sasaran tindak kekerasan oleh tersangka pelaku.

Anggota keluarga korban yang sadar bermaksud memberi tahu polisi tentang dugaan kekerasan yang dilakukan oleh pelaku.

Pada saat itulah korban mengungkap seluruh perilaku tersangka pelaku, termasuk permintaannya untuk bersetubuh.

“Pertama ada kekerasan, lalu ada hubungan paksa, karena anak saya awalnya menolak untuk berhubungan seks,” jelas LF.

LF juga mengungkapkan pada Minggu (18/4/2021) bahwa putrinya mengidap penyakit kelamin dan diduga tertular oleh terduga pelaku yang memperkosanya.

Ini karena anak tertular penyakit tersebut akibat dugaan kontak seksual dengan pelaku.

“Diagnosis berdasarkan pemeriksaan (medis), disebabkan karena hubungan seksual,” kata LF melalui pesan singkat.

Menurut LF, korban sering kali mengerang kesakitan dan mengeluarkan darah akibat benjolan di alat kelaminnya setelah pemerkosaan AT.

Korban akan membutuhkan perawatan intensif dan pembedahan.

“Akibatnya ada gumpalan yang sering mengeluarkan darah. Gatal-gatal dan nyeri akibatnya. Mohon doanya agar operasi kemarin berjalan lancar dan kasusnya cepat selesai,” tandas LF.

Selain itu, LF mengakui bahwa keluarga tersangka menawarkan bantuan untuk biaya operasi putrinya.

“Saya pernah mengatur agar keluarga pelaku menawarkan pengobatan,” jelas LF.

Namun, LF dan keluarganya menolak tawaran tersebut, karena khawatir bantuan tersebut akan membahayakan proses hukum dalam kasus dugaan pemerkosaan anak mereka.

LF dengan tegas menolak upaya rekonsiliasi dan permintaan keluarga tersangka agar laporan polisi ditarik.

“Dari sudut pandang saya, saya tidak menginginkan perdamaian, karena itu sudah sering terjadi,” jelasnya.

“Pelaku Australia Barat kepada anak saya agar laporannya ditarik,” kata LF.

Dikirim ke hidung belang

Belakangan diketahui bahwa PU tidak hanya diperkosa oleh AT, tapi juga memiliki tanda-tanda menjadi korban perdagangan manusia (TPPO).

PU dijual kepada hidung belang yang menuntut untuk dilayani di kost di Jalan Kinan, Rawalumbu, Kota Bekasi.

Usai memberikan bantuan psikososial kepada PU, Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi mengungkap informasi terkait adanya indikasi dugaan TPPO.

Novrian, Komisioner KPAD Kota Bekasi, menjelaskan indikasi dugaan perdagangan prostitusi anak bermula saat korban disuruh bekerja oleh tersangka pelaku.

“Korban awalnya direkrut untuk bekerja di pabrik (warung) pisang goreng. Untuk memperlancar pekerjaan, korban diminta tinggal di kos,” kata Novrian saat dikonfirmasi, Senin, 19/4/2021.

Namun, tawaran pekerjaan korban tidak pernah terwujud. Tersangka pelaku menginformasikan kepada korban bahwa pekerjaan tersebut sudah terisi.

“Dari situ diduga korban diperkosa, kemudian dilakukan (dijual),” jelas Novrian.

Melalui aplikasi media sosial MiChat, pelaku menjual korban ke hidung belang.

AT diduga menggunakan foto para korban untuk mengoperasikan aplikasi media sosial tersebut.

“Tarifnya Rp 400.000. Menurut pengakuan korban, tersangka memegang semua uangnya,” kata Novrian.

Menurut pengakuan KPAD PU, dia dipaksa melayani empat sampai lima pria hidung belang dalam satu hari.

Tags