oleh

Culture War! Tergerusnya Nation Right

Aburizal K Zainal - Ketua Pembina Mediamakmur Institut Jabodetabek
Aburizal K Zainal – Ketua Pembina Media Makmur Institut Jabodetabek

Di era abad ke-20 ini kita memasuki satu zaman yang di-istilahkan sebagai zamannya generasi milenial. Dimana kebebasan adalah harga mati yang harus dijunjung tinggi oleh setiap manusia di dunia. Hal ini seakan menjadi pembalasan dendam pasca orde baru yang dianggap mengungkung akal dan tindakan manusia-manusia Indonesia.

Di era modern dengan peradaban baru digital society, kemudahan dan transparansi informasi menjadi kebutuhan primer bagi setiap kalangan masyarakat. Tak terkecuali generasi muda milenial didalam memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung aktifitas kesehariannya atau sekedar menikmati hidangan di jejaring internet untuk sekedar mengisi waktu kosongnya.

Terlepas dari hal itu semua, hal yang paling sering muncul dan disoroti adalah persoalan tentang hak asasi. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan hak asasi manusia sebagai problem moralitas yang paling sering disajikan ke publik sebagai makanan pokok untuk dikonsumsi oleh segala elemen masyarakat.

Berbicara tentang hak asasi sebagai isu moralitas yang paling laku di panggung politik memiliki defenisi dan pemahaman yang berbeda-beda dari para ahli. Bahkan tidak sedikit perdebatan-perdebatan yang dipertontonkan mengenai sepakat dan tidaknya kehadiran hak asasi di tengah-tengah masyarakat modern.

Akan tetapi, keberadaan hak asasi ditengah-tengah kehidupan masyarakat adalah unsur yang sangat penting dalam membangun suatu tatanan sosial kehidupan yang serba menuntut kebebasan dan keadilan di zaman milenial ini. Namun, kadang kala hak asasi menjadi senjata didalam permainan politik untuk menjerat siapa saja yang dapat menghalangi kepentingan seseorang atau golongan tertentu.

Katakan saja culture war!. Alias perang budaya yang memanfaatkan nilai hukum dengan senjata hak asasi guna mempengaruhi budaya manusia disuatu bangsa oleh bangsa lain dengan tujuan mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya. Bagaimana bisa? Disinilah kita akan mengurai bagaimana dampak dari culture war yang menggerus keyakinan bangsa Indonesia tentang nation right sebagai konsekuensi mutlak atas hadirnya human right.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, sebelum Pancasila Ditetapkan Sebagai Dasar Indonesia Merdeka dan sebelum NKRI terbentuk, bangsa ini telah dihancurkan tatanan nilai budayanya oleh bangsa kolonial. Katakanlah culture stelsel dan politik etis yang diterapkan Belanda pada dekade 1615 dan 1901. Suatu pola penjajahan budaya guna merubah cara berpikir pribumi Indonesia agar dapat dengan mudah kekayaan alamnya dikuasai. Penerapan cultur stelsel dengan metoda sistem tanam paksa oleh Belanda dapat dikatakan tidak ada hambatan sama sekali. Dampaknya adalah pribumi menjadi termiskinkan akibat hak kekuasaan atas tanahnya telah hilang dikuasai penjajah. Tidak hannya sampai disitu, latar belakang kemiskinan berdampak pada terbodohkannya kaum pribumi, keterbelakangan, ketertindasan, dan akhirnya penjajahan pun tak terelakkan.

Kiranya masa lalu yang kelam tersebut dapat dengan mudah kita jumpai diberbagai referensi sejarah yg berhamburan di negeri ini. Dengan menilik ke masa-masa kelam tersebut kita dapat menemukan suatu benang merah bahwa penjajahan adalah sebab lahirnya rasa persatuan untuk memperjuangkan nation right, yah nation right bukan human right. Mengapa? Karena kesatuan sifat sebagai bangsa yang terjajah, bukan sekedar individu.

Dari pengalaman tersebut, maka dengan mudah kita dapat membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya didalam berpikir dan bertindak. Katakanlah manusia zaman old yang merasakan pesakitan perjuangan tempo dulu dan manusia milenial yang menikmati hasil perjuangan tersebut. Apa contoh perbedaan yang dapat kita lihat? Maka kembali lagi pada topik kita. Bahwa manusia zaman old lebih memahami dan menjunjung tinggi nation right daripada human right. Sebab mereka hidup pada masa-masa paceklik hanya bermodalkan semangat persatuan dan perjuangan. Alhasil, tindakannya pun akan berbeda dengan manusia di era milenial hari ini yang memandang bahwa human right adalah segalanya sebagai konsekuensi dari dampak culture war yang sedang terjadi. Tidak bisa dipungkiri bahwa generai sekarang lebih mengagungkan human right atau hak asasi manusia. Suatu hal yang begitu jelas perbedaanya dengan generasi tua yang lebih mendukung nation right. Bagi generasi terdahulu, sangatlah pentingnya nation right dan survival of the nation keutuhan bangsa dengan harapan agar bangsanya diberi kemampuan untuk dapat bertahan hingga 1000 tahun kedepan. Suatu mimpi yang sangat mulia untuk generasi saat ini.

Untuk impian tersebut, mereka berupaya memberikan indoktrinasi kepada generasi muda agar tidak mengkonsumsi referensi, berita, film atau tayangan apapun yang dianggap dapat merusak pola pikir generasi mudanya dan agar culture Indonesia dapat tetap terjaga. Bahkan untuk melakukan hal tersebut, mereka bisa membuat peraturan yang mengikat dirumah agar anak-anaknya tidak menikmati tayangan-tayangan luar yang disiarkan, guna menjaga kestabilan devisa negara agar tidak terbuang percuma untuk berkunjung ke tempat-tempat yang dipertontonkan di dunia maya. Melarang generasi mudanya untuk tidak menikmati pertunjukan barongsai agar culture kita tetap terjaga dan budaya Tiongkok tidak bercokok di kepala generasi dibawah mereka.

Mereka selalu melarang suatu tontonan yang berkaitan dengan cultural. Mengapa demikian?
Karena mereka tahu hal tersebut merupakan strategi perang budaya yang bangsa lain lakukan demi men-seeding informasi ke otak generasi negara lain. Sebab mereka tau, dengan cara itulah bangsa lain mendapat keuntungan dari kenaikan turis hingga 100% setiap tahunnya hanya dengan propaganda tayangan gratis diberbagi stasiun tv negara lain. Hal tersebut kiranya dialami oleh Indonesia yang pada saat 2016 dan 2017, kunjungan Warga Negara indonesia ke Turki, Cina, dan Korea naik hingga 100%.

Tidak hanya sampai disitu, pembelian barang dari negara tersebut pun meningkat drastis yang berdampak pada kenaikan jumlah impor yang tak terhitung jumlahnya. Contoh nyata yang dapat kita lihat sekarang adalah bagaimana saat ini Cina terus-menerus memberikan free film ke salah satu stasiun tv nasional milik negara demi masuknya pemahaman Tiongkok. Berbagai macam informasi gratis disodorkan yang nantinya berefek ke produk Cina, tenaga kerja Cina, dan banyak hal yang berbau Tiongkok menjadi biasa di kepala generasi milenial saat ini.

Maka dengan demikian dapat diprediksi bahwa dalam waktu 10-20 tahun kemudian, doktrin culture itu perlahan mulai memasuki otak setiap generasi bangsa ini, sebab ketidakpahaman kita akan “school of though” perang budaya, perang informasi yang kita anggap semuanya adalah hal biasa.

Baca Juga: Ada Distorsi Didalam Logika Berpikir Tentang Dasar Bernegara

 

Apa buktinya?

Kembali lagi pada Pancasila Dasar Indonesia Merdeka sebagai standar budaya didalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Pancasila mengajarkan tentang budaya musyawarah didalam menyelesaikan persoalan hidup kita sebagai suatu bangsa. Akan tetapi pada kenyataan hidup kita, budaya tersebut telah tergerus jauh, bahkan hilang dari kepala kita dan digantikan oleh voting ala Amerika. Tidak hanya itu, pergeseseran budaya tersebut berdampak pada tingkah laku generasi yang semakin mengarah pada perilaku-perilaku A-moral dan A-etika. Sebegitu miriskah

Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan lewat tulisan sederhana ini yaitu, bernegara bukanlah businessas usual. Itulah suara generasi zaman old yang hari ini tidak dapat lagi melakukan apa-apa, karena mereka sadar bahwa saat ini mereka telah menjadi minoritas, kalah jumlah dengan generasi milenial yang merupakan 55-60% populasi saat ini. Dan kita yang masih diberi kesadaran berpikir akan bertanya-tanya didalam hati kita, sebenarnya culture war ini “school of thought” nya siapa yang membawa Bangsa Indonesia semakin jauh dari persatuan perjuangan nation right? Lalu bagaimana caranya menaikkan mutu Bangsa Indonesia yang terlanjur tergerus agar generasi saat ini dan kedepan memahami How The World Work? Maka harapannya semoga kedepan generasi yang akan datang dapat berbuat lebih baik dari pendahulu-pendahulunya.

Wassalam

Komentar

Berita Terkait