12 daerah di Jabar tetap PSBB, sedangkan 15 bisa menerapkan normal baru

Di Jawa Barat (Jabar), sebanyak 15 daerah sudah mampu menerapkan new mormal atau kebiasaan baru (AKB).

“Ada 12 daerah di Jabar yang masih membutuhkan operasi sosial skala besar (PSBB), sedangkan 15 daerah lainnya sudah bisa melaksanakan normal baru,” kata Gubernur Jabar M. Ridwan Kamil atau Kang Emil, Jumat (19/9). 5), di Gedung Negara Pakuan Kota Bandung.

Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Kuningan merupakan 15 daerah yang sudah masuk zona biru atau memenuhi syarat untuk menerapkan normal baru atau AKB.

Selain itu, Kabupaten Majalengka, Pangandaran, Purwakarta, Sumedang, dan Tasikmalaya, serta Kota Banjar, Cirebon, Sukabumi, dan Tasikmalaya.

Alhasil sudah masuk level dua, zona biru, yang memungkinkan diterapkannya kebiasaan baru, jelasnya.

Sebelumnya, lanjut Emil, tiga kota dan kabupaten masih berada di zona merah atau level empat. Namun, semua area tersebut kini lebih aman atau telah memasuki zona kuning.

Belum ada kabupaten atau kota di Jabar yang masuk zona hijau atau dinyatakan bebas penyebaran Covid-19.

Kabupaten Bandung, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, Kabupaten Sukabumi, Kota Bandung, Kota Bekasi, Kota Bogor, Kota Cimahi, dan Kota Depok merupakan wilayah yang masuk dalam zona kuning atau tidak terus dilaksanakan. PSBB tersebut.

Jawa Barat, jelas Kang Emil, merupakan provinsi yang menerapkan PSBB secara masif dan terbesar di Indonesia, karena Jabar menerapkan PSBB di tingkat provinsi dengan jumlah penduduk 50 juta.

Menurut dia, hampir 50 juta penduduk Jabar tidak hilang karena proses penyaringan yang disebut PSBB.

Ia menambahkan, penetapan zona siaga menunjukkan bahwa setiap keputusan yang diambil Jawa Barat harus berdasarkan data. Salah satu indikator klasifikasi zona waspada adalah nilai Covid-19 atau Rt, yang memiliki rata-rata 1 selama 14 hari dan 0,97 untuk dua hari terakhir.

Artinya, seorang pasien yang positif hanya bisa menulari satu orang lain per hari, jelas Kang Emil.

Jika standar WHO diikuti, lanjutnya, area atau Rt tersebut akan semakin kecil dalam 1 kategori terkontrol untuk suatu waktu.

“Kami berharap ini menjadi solusi jangka panjang,” jelasnya.

Selain itu, kata dia, penurunan angka ODP seiring dengan kemampuan Polda Jabar menahan warga yang pulang ke kampung halaman.

“Kami berhasil mengalihkan puluhan ribu pemudik dan pengungsi yang kembali dari Jawa Tengah,” jelasnya.

Emil mengatakan, jumlah pasien yang dinyatakan positif Covid-19 terus menurun, dimulai dengan jumlah PDP.

“Ini capaian para dokter dan petugas kesehatan di Jabar yang mampu mencegah pasien datang ke rumah sakit akibat insiden. Angka ini turun menjadi 30,2 persen pasien yang tetap berada di ruang isolasi, ” tandasnya.

PSBB di Jabar dievaluasi secara proporsional, lanjutnya, karena luas provinsi terlalu besar dan gap situasi juga cukup besar.

Pihaknya memanfaatkan akademisi untuk melakukan tes untuk mengetahui tingkat kewaspadaan.

Oleh karena itu, harus ada sembilan kriteria yang harus diukur: angka ODP, angka PDP, angka kasus positif, angka kematian, angka kesembuhan, angka kelompok Covid-19, angka penularan, angka lalu lintas dan pergerakan manusia, serta perbedaan geografis, ”jelasnya.

Kang Emil menambahkan, pemeriksaan terhadap sembilan indeks keilmuan tersebut menghasilkan penetapan lima tingkatan kewaspadaan yaitu level lima yang diwakili zona hitam, level empat diwakili oleh zona merah, level tiga diwakili oleh zona kuning level. dua, diwakili oleh zona biru, dan tingkat satu, diwakili oleh zona hijau.

Tags