Insiden selama pengerjaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung KCJB

Banyak Insiden Selama Pelaksanaan Proyek, jalan ambles tersebut tidak akan membahayakan kelangsungan proyek kereta api berkecepatan tinggi tersebut.

  • Untuk mengantisipasi kejadian serupa, perusahaan telah bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
  • Jika sebuah jembatan atau desain terowongan diusulkan, itu harus disetujui oleh Kementerian PUPR.
  • Pembangunan kereta cepat juga mengakibatkan banjir yang menggenangi jalan tol Purbaleunyi tahun lalu.

Sejumlah insiden terjadi selama pembangunan jalur kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB). Baru-baru ini, sebuah jalan ambruk pada Senin lalu di kawasan eks jalan nasional di Desa Sumur Bandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. PT Kereta Cepat Indonesia-China saat ini sedang membangun outlet KCBJ Terowongan 8 di kawasan (KCIC).

Namun, Mirza Soraya, Sekretaris Perusahaan KCIC, membantah terowongan KCJB runtuh. Mirza melanjutkan dengan menyatakan bahwa perusahaan sebenarnya telah bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mengantisipasi kejadian serupa. Selain itu, pemerintah membentuk satuan tugas khusus (task) untuk mengatur perizinan dan pengawasan kegiatan yang menyangkut penggunaan ruas jalan tol.

“Mereka selalu mendampingi kami. Saat kejadian kemarin, mereka langsung memantau, melakukan perjalanan ke lokasi, dan memberikan arahan” ujar Mirza kemarin saat rapat di kawasan Jakarta Pusat. Kalaupun ada desain jembatan atau terowongan rel kecepatan tinggi, lanjut Mirza, Kementerian PUPR harus menyetujuinya.

Mirza menjelaskan, ambruknya jalan tersebut terjadi beberapa hari lalu di jalur memutar di sekitar Desa Sumur di Bandung. Ia memastikan, kejadian tersebut tidak berdampak pada pembangunan terowongan KCJB Terowongan 8. Tim pelaksana Satgas Khusus, Komisi Keselamatan Konstruksi, dan Komisi Keselamatan Jembatan dan Terowongan Jalan semuanya telah meninjau kondisi ini.

Hadrianus Bambang Nurhadi Widihartono, Ketua Tim Pelaksana Satgas Khusus Perizinan, Pengendalian, dan Pengawasan Kegiatan Pemanfaatan Ruas Jalan Tol, mengatakan perbaikan telah dilakukan melalui pengecoran dan penimbunan serta penguatan struktur tanah. (grouting) untuk mencegah penurunan di masa depan.

Petugas memadamkan api

“Jalur lalu lintas ditutup satu arah selama proses ini sampai pekerjaan grouting selesai. Setelah proses grouting selesai, jalur lalu lintas akan dikembalikan ke kapasitas semula dua lajur” tegas Bambang.

Di sisi lain, tim lapangan melakukan pekerjaan drainase dengan sangat baik, mengingat lokasinya berada di tikungan jalan dengan elevasi yang landai dan juga jalan yang menurun yang tujuannya untuk menahan air keluar dari badan terowongan. Ia menegaskan antisipasi dan mitigasi selalu dilakukan di setiap tahapan pembangunan KCJB.

Petugas memadamkan api yang berkobar di pipa saluran distribusi BBM di proyek kereta cepat Melong, Cimahi, Jawa Barat, pada 22 Oktober 2020.

“Serta koordinasi dan komunikasi, serta pelibatan tenaga ahli untuk memastikan dampak pembangunan diminimalisir dan pembangunan berjalan lancar,” kata Bambang.

Aditya Dwi Laksana, Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia, menyayangkan kejadian tersebut. Menurutnya, kejadian ini menambah bukti yang berkembang bahwa studi kelayakan untuk proyek strategis nasional ini terburu-buru dan diabaikan untuk mempertimbangkan dampak lingkungan keseluruhan (AMDAL) proyek tersebut.

“Ini bukan pertama kali terjadi. Apapun itu, dampak lingkungan proyek ini harus diprioritaskan. Tidak ada alasan untuk tergesa-gesa atau segera bertindak tanpa terlebih dahulu melakukan kajian dampak lingkungan” tegas Aditya.

Aditya mengatakan, pembangunan KCJB ini mengakibatkan banjir tahun lalu yang menggenangi jalan tol Purbaleunyi di kilometer 130. Peristiwa itu terjadi akibat hujan deras yang terjadi saat relokasi tanggul penahan air kawasan tersebut. Kemudian, pada 2019, pipa Pertamina meledak di dekat jalan tol Cipularang di Kabupaten Cimahi, Jawa Barat.

“Dampak lingkungan, lalu lintas, dan sosial ekonomi, menurut saya, harus dipertimbangkan dengan cermat. Mari kita periksa apakah target 2022 itu layak. Bukan hanya kereta cepat, dan konstruksinya tidak ada hubungannya dengan keselamatan”, tegasnya.