oleh

Kunanti di Telaga Biru

-Cerpen-468 views

Dipacunya sepeda motor hingga Rindu harus berpegang lebih erat ke pinggang Bayu, setelah melewati hutan pinus Bayu menghentikan laju sepeda motornya di depan sebuah telaga dengan air yang bening dan selalu beriak karena ratusan ikan mas dibiarkan hidup alami.

Nama telaga pun seperti airnya yang selalu bening yaitu Talaga Herang. Kemudian mereka lanjutkan perjalanan menapaki jalan setapak menuju Telaga Biru. Hingga ujung senja mereka selalu menghabiskan waktu di sana. Hampir pukul lima sore mereka baru tiba di rumah Rindu.

“Besok aku ke Jakarta, ada acara gathering minggu depan mungkin aku tidak pulang.”

“Iya Bayu, tidak apa-apa kamu pergi saja ke acara itu aku bisa mengurus sendiri keperluan kita sementara kamu di Jakarta.”

“Biar Mama yang menemani Rindu selama kamu di Jakarta Nak Bayu.”

“Iya Mama, Bayu pamit dulu.”

Rindu menjajari langkah kaki Bayu hingga ke depan pintu gerbang, entah kenapa terasa berat sekali melepas kepergiannya saat ini. Biarlah Allah menjaga Bayu dengan cara-Nya.

***

Undangan Pernikahan berwarna biru toska warna kesukaan Rindu seperti warna air telaga yang menemani kisah perjalanan mereka sudah siap disebar. Waktu seperti berlari sehingga Rindu cukup kelelahan mengikutinya. Kelelahannya hari ini membuat Rindu hampir tidak mendengar nada panggil telepon selulernya yang semakin keras.

“Bisa bicara dengan Rindu?”

Komentar

Berita Terkait