oleh

Peran Bahasa Dalam Pendidikan Perlu ditinjau Ulang

Wartakamicom,- Australian National University (ANU) PhD Candidate dan Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Associate Researcher Andree Surianta mengatakan, peran bahasa dalam pendidikan perlu ditinjau ulang. Peninjauan ulang ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.

Hal ini diungkapkannya mengacu kepada wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim untuk mewajibkan pendidikan Bahasa Inggris dituntaskan di SD. Strategi ini didasari pemikiran bahwa kemampuan berbahasa Inggris adalah modal yang penting untuk mengakses ilmu pengetahuan di tingkat lanjutan dan harus mulai dipelajari seawal mungkin.

Indonesia adalah salah satu negara dengan keragaman bahasa tertinggi di dunia. Meskipun Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, kurang dari 10 persen populasi Indonesia menggunakannya sebagai bahasa pertama. Kendala bahasa, lanjutnya, adalah salah satu tantangan utama dunia pendidikan Indonesia yang ditemukan oleh Inovasi, program kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan pemerintah Australia.

Mengingat Bahasa Indonesia adalah bahasa pengantar pendidikan di Indonesia, mutu pendidikan yang ditunjukkan oleh tes PISA sangat mungkin disebabkan oleh, salah satunya, disparitas kemampuan berbahasa Indonesia.

“Penelitian UNESCO menunjukkan bahwa siswa yang dididik dengan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari (bahasa pertama atau bahasa ibu) di sekolah dasar berprestasi lebih baik secara keseluruhan (termasuk dalam bidang matematika) daripada rekan sebaya mereka yang menerima pendidikan dengan bahasa kedua saja,” ungkap Andree.

Beberapa penelitian lainnya menunjukkan bahwa anak yang mempelajari bahasa pertama dan kedua secara bersamaan sejak usia dini biasanya memiliki kosakata per bahasa yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang awalnya dididik dengan bahasa pertama saja dan kemudian menerima pendidikan bahasa kedua pada masa remaja. Hal ini, menurut Andree, sangat beralasan.

Teori beban kognitif dapat membantu menjelaskan fenomena ini. Teori ini menyatakan bahwa kapasitas dan durasi memori kerja seseorang itu terbatas dan beban berlebih dapat berdampak negatif terhadap kinerja.

“Menjamurnya ponsel pintar, misalnya, meningkatkan beban kognitif siswa dan berakibat kepada penurunan prestasi akademik. Siswa yang mempelajari dua bahasa sekaligus pada dasarnya memiliki sisa kapasitas memori kerja yang lebih sedikit untuk hal-hal lainnya. Jadi, bisa dipahami mengapa anak ekabahasa akan cenderung menyerap lebih banyak informasi dibanding anak dwibahasa,” katanya.

Komentar

Berita Terkait