Pinky Movement, Tahun 2022 Subsidi LPG 3 kg akan dihapus

Program Gerakan Pinky membuka peluang bagi distributor Bright Gas LPG yang tidak bersubsidi.

  • Pertamina mempromosikan penjualan Bright LPG non subsidi melalui Gerakan Pinky.
  • Pertamina menyiapkan bantuan modal bagi penyalur LPG non subsidi.
  • Kementerian ESDM menggalakkan penggunaan kompor listrik sebagai pengganti kompor LPG.

PT Pertamina (Persero) mempromosikan penggunaan produk LPG non subsidi melalui berbagai program, salah satunya adalah Gerakan Pinky. Putut Andriatno, Corporate Secretary Commercial & Trading Subholding PT Pertamina Patra Niaga, menyatakan program tersebut dilakukan untuk memperluas jumlah outlet penjualan Bright Gas di seluruh Indonesia.

Pertamina menawarkan pinjaman lunak untuk membuka gerai Bright Gas dan menjadi distributor resmi LPG nonsubsidi melalui Gerakan Pinky. Pertamina akan menimbun Bright Gas tabung 5,5 kilogram dan 12 kilogram beserta isinya, serta melayani pengiriman melalui sepeda motor. "Modal menjadi salah satu penghambat pembukaan outlet Bright Gas," katanya kepada Tempo kemarin.

​ Pekerja mengangkut 12 kilogram gas di agen penjual gas di kawasan Pasar Rebo Jakarta pada 23 Desember 2020.

Putut mengatakan, semakin banyak outlet yang tersedia, semakin mudah untuk mendapatkan elpiji nonsubsidi. Menurut dia, Pertamina membidik usaha kecil dan menengah yang layak untuk dikonversi ke elpiji bersubsidi. Mereka yang bersedia beralih ke Bright Gas akan ditawari pinjaman lunak. Pelaku usaha yang mau berkolaborasi juga akan menjadi mitra binaan Pertamina.

Program ini menarik 589 gerai serta usaha kecil dan menengah tahun lalu. Pertamina berniat menambah jumlah mitra menjadi 640 pada tahun ini. Pertamina menyalurkan modal usaha ke 36 outlet Bright Gas dan 21 usaha kecil di seluruh Indonesia hingga kuartal I tahun lalu.

Aplikasi dan media sosial My Pertamina juga dimanfaatkan untuk mempromosikan penggunaan elpiji non subsidi dengan menawarkan berbagai promo pembelian Bright Gas. Pertamina, menurut Putut, memetakan wilayah potensial dan menyebarluaskan informasi ketersediaan produk yang dikemas dalam tabung merah muda ini di wilayah tersebut.

Menurutnya, sosialisasi menjadi prioritas di kompleks apartemen. “Karena rata-rata penghuni apartemen berpenghasilan baik, seharusnya mereka menggunakan Bright Gas 5,5 kilogram,” jelasnya. Pertamina juga membidik perumahan elit, restoran, dan hotel.

Abra Talattov, peneliti dari Indef Center for Food, Energy, and Sustainable Development, menyatakan volume subsidi LPG 3 kilogram yang disalurkan terus bertambah. Dia mencatat, volume subsidi meningkat dari 3,25 metrik ton pada 2011 menjadi 5,56 metrik ton pada 2015. Angka tersebut meningkat menjadi 7,14 metrik ton pada tahun lalu.

Distribusi, bongkar muat LPG 3 kg di Rawasari, Jakarta.
Distribusi, bongkar muat LPG 3 kg di Rawasari, Jakarta.

Abra menyatakan kondisi ini akibat pemberian subsidi secara terbuka. “Sementara subsidi ditujukan untuk segmen masyarakat miskin dan rentan dari masyarakat miskin, produk ini dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat,” jelasnya. Menurut studi yang dilakukan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), 50,2 juta rumah tangga, atau 30% rumah tangga dengan status sosial ekonomi terendah, hanya menerima 22% dari subsidi elpiji tiga kilogram.

Untuk mengurangi subsidi, Kementerian ESDM mendorong konversi kompor LPG ke kompor induksi. Seperti halnya konversi minyak tanah ke elpiji, pemerintah saat ini sedang mengkaji skema konversi ke kompor listrik. “Kalau bisa diubah menjadi kompor induksi, bisa menghemat subsidi yang tidak tepat sasaran,” kata Rida Mulyana, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.