oleh

Renjana

-Cerpen-934 views

“Kamu di mana?” pesan singkat Ranu baru saja kuterima setelah lebih dari sehari semalam dia pergi.

 

“Aku di penginapan,” jawabku singkat “Kamu sudah sampai di mana?” Lanjutku.

 

“Sudah naik kereta, baru mau berangkat sekarang.”

 

“Kamu sudah makan?” rasa khawatir menyelinap selama menunggunya pergi ke luar kota meninggalkan aku sendiri di sebuah homestay.

“Aku sudah makan, kamu makan aja dulu nggak usah menungguku.”

Tiba-tiba selera makanku hilang, rencana menikmati hidangan makan malam khas Jogja pupus, menu nasi gudeg dengan lauk krecek dan ayam suwir di tengah ramainya Malioboro tiba-tiba lenyap seperti melebur bersama suara notify pesan dari ponsel yang kembali senyap. Usai salat Magrib aku pun tertidur.

Waktu menunjukkan dua belas menit lepas dari pukul sembilan malam, terdengar suara pintu kamar diketuk dan seseorang memanggil namaku. Separuh kesadaranku baru terkumpul dengan sisa kantuk kupaksakan berdiri dan membuka pintu, Ranu pulang.

Aku hanya terduduk di ujung tempat tidur memperhatikan Ranu membersihkan diri dan mengganti t-shirt-nya dengan pakaian tidur. Ranu nampak bahagia meskipun terlihat tubuhnya kelelahan selama perjalanan. Ranu menghampiri kemudian duduk tepat di sampingku, namun tidak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Sesak di dada ini seperti menguncinya untuk tetap bungkam, ternyata tidak cukup kuat sehingga mataku yang dari tadi berkaca-kaca tak mampu kutahan lagi akhirnya pecah.

“Kenapa nangis?” tanya Ranu, “Maaf keretanya telat, jadi sampai di sini sudah malam.”

Bukan jawaban yang kuberikan, air mataku semakin deras seperti air bah yang tumpah. Aku sungguh tidak mengerti kenapa aku tidak kuasa menahan luapan emosiku? Bukankah aku sendiri yang mengijinkan Ranu pergi sementara aku bersedia menunggu di sini? Entahlah, otakku seperti hendak menyusun puzzle yang awalnya berserakan kini mulai tertata tetapi segala praduga berkecamuk memenuhi isi kepalaku.

“Anggit jangan membuatku bingung, aku capek.”

“Aku juga bingung, capek dan khawatir dengan keadaan kamu.”

“Kamu takut aku tinggalkan di sini?”

“Bukan hanya itu, kamu seperti hilang ditelan bumi.”

“Iya maaf, aku yang salah.”

Ranu meraih tanganku, aku membiarkan dia menarik tubuhku hingga rebah bersandar di dadanya.

“Siapa yang kamu temui?” meskipun ragu akhirnya terlontar juga pertanyaan yang sejak kemarin mengganggu pikiranku.

“Aku menemui Omku.” Jawab Ranu setelah beberapa saat terdiam.

“Kemarin kamu bilang adik sepupu, sebelumnya kamu bilang teman, mana yang benar?”

“Omku, dia baru mengalami kecelakaan kakinya patah dan belum bisa kembali ke Jakarta.”

“Ranu, siapa sebenarnya yang kamu temui?”

“Kamu nggak perlu tahu siapa yang kutemui di sana.”

“Apa yang membuat kamu berpikir aku tidak perlu tahu?”

“Tidak semua hal harus kamu tahu.”

“Kamu yang membawaku ke sini, wajar saja aku tanya ke mana kamu selama dua hari ini tanpa kabar, sementara aku khawatir dengan keadaan kamu.”

Beberapa saat hanya senyap di antara kami. Ranu melepaskan pelukannya, menghempaskan tubuhku hingga terdorong. Ranu beranjak dari tempat tidur kemudian mengambil tas dan mengemas semua pakaian yang masih tergantung di lemari dan beberapa potong pakaian yang semula kotor sekarang terlipat rapi di sudut tempat tidur. Sengaja kucuci dengan tanganku sendiri, semua kulakukan buat Ranu. Niat baikku nampaknya tak sedikit pun memberi kesan baik di mata Ranu.

“Kupikir kamu teman yang asyik, ternyata tidak.”

“Apa aku nggak salah dengar, kamu bilang aku teman?”

“Iya teman, memangnya apa?” tiba-tiba nada suaranya berubah, Ranu yang kukenal sangat lembut seketika berubah menjadi sangat dingin.

“Bila kamu anggap aku teman, kenapa kamu perlakukan aku seperti ini?”

“Seperti apa?” nadanya semakin tinggi, “semua kuperlakukan sama.”

“Semua kamu perlakukan sama?” marah dan kecewa berbaur jadi satu, “pantas saja mereka begitu membenciku.”

“Mereka, siapa yang kamu maksud?”

“Teman-temanmu, mereka juga ada di kota ini kan?”

“Ya mereka memang ada di sini.”

“Lalu kenapa kamu bohongi aku?”

“Bohong apa?”

“Kenapa mereka menolakku bergabung dengan mereka sehari sebelum kita berangkat?”

“Aku sudah ingatkan itu, mengapa kamu tetap berangkat juga?”

“Karena kamu mengajakku ikut, dan aku ingin tahu ada apa di balik semua ini?”

“Sekarang apa maumu?”

“Aku ingin kamu jelaskan semuanya!”

“Jelaskan tentang apa lagi?”

“Jelaskan mengapa mereka membenciku?”

“Mana aku tahu apa alasan mereka.”

“Semua karena kamu, Ranu.”

“Bukan urusanku mereka membencimu, dan aku tidak mau tahu.”

“Sudah kuduga ada yang salah pada mereka,” aku diam sejenak, berat sekali rasanya.

“Kamu yang selalu berprasangka buruk pada mereka.”

“Bagaimana aku tidak berprasangka buruk, bila ke mana pun kita pergi mereka selalu ada di sekitar kita tapi tidak mau berbaur dan terlalu banyak sandiwara supaya aku tidak dekat dengan kamu.”

“Biarkan saja, nggak usah ikut campur urusan orang lain.”

“Jadi selama ini kamu hanya menganggapku sebagai teman?”

“Ya, kamu harus paham itu, nggak ada seorang pun yang bisa memaksa atau melarangku,” tegasnya “lebih baik aku pergi malam ini.”

“Jangan Ranu, sudah hampir tengah malam.”

Aku tidak ingin berdebat lagi, saat Ranu tidak peduli pun aku masih mengkhawatirkan keselamatannya.

Sorot matanya semakin dingin, lebih tepatnya Ranu selalu berusaha menghindari tatapanku. Dia hafal betul bagaimana caraku mencari kebenaran tentang apa yang diucapkan seseorang, dan itu selalu berhasil. Perubahan sikapnya membuat aku merasa semakin tidak mengenal Ranu. Siapakah sosok yang ada di depanku ini? Ke mana Ranu yang aku kenal? Aku merasa mulai kehilangan dia.

Malam itu aku berusaha untuk menukar tiket pulang, sayang jadwal kereta yang kumaksud sudah penuh termasuk jadwal kereta lain karena bertepatan dengan libur panjang. Begitu pula dengan tiket bis semua sold out. Entah apa yang terpikir saat itu selain bisa mempercepat kepulanganku, tapi gagal. Bagaimana pun kondisinya aku harus tetap tenang, lebih tenang dari kota ini. Hingga kuputuskan untuk bertahan beberapa hari lagi seperti rencana kepulangan sebelumnya.

***

Perjalanan menggunakan sepeda motor menuju Gunung Kidul, ditempuh selama hampir dua jam setelah beberapa kali berhenti untuk membingkai matahari pagi yang terlambat kusambut karena perjalanan kami baru dimulai tepat pukul enam, membeli beberapa buah donat ubi sebagai bekal di jalan, tentu tak terlewatkan mampir di warung angkringan untuk sekedar mengisi perut supaya tidak masuk angin.

“Ranu, terima kasih,” ucapku hampir berteriak di telinga Ranu, “Aku senang bisa road trip seperti ini.”

“Apa, aku nggak denger?” helmet itu mengamankan pendengarannya dari teriakanku.

“Aku lebih suka kamu membawaku ke sini daripada ke mall, thanks ya Ranu.” Ulangku masih berteriak dari belakang punggunggya yang sedang mengendarai sepeda motor.

“Iya, aku juga suka.” Tak mau kalah dia pun menjawab dengan berteriak.

Berbekal aplikasi peta dalam ponsel cukup membantu kami menempuh jarak sejauh 60 km melintasi hutan jati, jalanan lengang, berliku, dan mendaki bertolak belakang dengan hiruk pikuk ibu kota. Ranu memacu kendaraan roda dua yang kami sewa dari sebuah rental untuk menjelajahi garis pantai selatan Jogjakarta. Pantai Baron tempat pilihanku ketika Ranu menawarkan mengantar ke mana pun yang aku mau. Entah apa yang membuatnya berubah pikiran, mungkin untuk menebus kesalahannya kemarin malam.

Menara suar yang berada di atas tebing karst pada salah satu sisi pantai dengan ketinggian 40m menapaki anak tangga melingkar sebanyak delapan lantai akhirnya sampai pula di puncak. Pemandangan lepas pantai membuatku ingin berteriak sepuasnya.

“Peluk aku Ranu, seperti kemarin!”

“Ini yang terakhir.” Sejak kemarin kalimat itu selalu Ranu katakan setiap kali memelukku.

Aku berusaha melupakan kejadian malam itu, mencoba bahagia dan menikmati waktu liburan yang tersisa, ruang di hatiku tiba-tiba seperti kosong ditinggal penghuninya, Ranu. Namun entah bagaimana yang dia rasakan. Dia merahasiakan sesuatu, berulang kali dia menyebut perempuan itu sebagai pilihannya meski tanpa menyebut nama. Bohong bila kukatakan tidak sakit, perempuan mana yang mampu bertahan bila orang yang bersamanya selalu menyebut ada perempuan lain yang dia jaga hatinya, mana mungkin aku sanggup? Aku tidak bisa berpura-pura.

Inikah namanya cinta bertepuk sebelah tangan? Tentu saja bukan, aku tidak sedang berkhayal apalagi bermimpi. Sikap Ranu selama bersamaku selalu baik, lembut, dan sangat perhatian, tak jarang dia memelukku seperti malam pertama ketika tiba di kota ini. Apakah aku berlebihan menganggapnya berbeda? Aku masih ingat betul apa yang kami lakukan malam itu, tidak mungkin dilakukan oleh dua orang yang hanya berteman.

Apakah aku mengalami delusi, ketika sering bersamanya sehingga membuatku terobsesi kemudian menyukai Ranu secara berlebihan dan menganggap dia punya perasaan yang sama denganku? Beberapa psikolog terkenal menyebutnya sebagai penderita erotomania? Aku bukan teman Ranu yang menganggap dia adalah kekasihnya,  padahal menurut Ranu bukan, bahkan menganggapku sebagai pesaingnya sampai dia begitu membenciku.

Aku juga bukan perempuan dengan segala carut-marut kehidupannya. Dia selalu memposisikan diri sebagai konseling ketika teman-temannya bermasalah tetapi dengan cara yang tidak masuk ke dalam nalarku. Dia seringkali menggambarkan Ranu bukanlah sosok yang bertanggung jawab, dan tidak cukup baik untuk dijadikan teman dekat. Tetapi dia memperkenalkan Ranu dengan teman-temannya.

Lalu bagaimana dengan Ranu? Perjalanan panjang hari itu tidak membuat Ranu kembali seperti yang kukenal, entah apa yang sudah merubahnya. Dia selalu mengelak setiap kutanya penyebabnya.

“Kenapa kamu bohong Ranu?”

“Kamu lupa, dari awal aku sudah bilang aku punya acara sendiri?”

“Aku ingat itu, kesalahanmu adalah kenapa merahasiakan siapa yang kamu temui dan apa hubunganmu dengan dia

Jika kamu hanya menganggapku teman, apa sulitnya kalo kamu jujur?”

“Tidak semua urusanku menjadi urusanmu!”

“Ranu, aku bukan perempuan yang harus kamu jaga hatinya dengan cara dibohongi.”

“Terserah kamu.”

“Jangan bilang aku salah menduga tentang semua yang terjadi di antara kita, karena sejak awal kamu membiarkan aku seperti itu.”

Betapa tipis batas cinta dan benci, apakah aku harus membencinya sesaat setelah aku menyadari bahwa aku mulai jatuh hati padanya. Ketika aku mulai memberi ruang untuk seseorang yang kuanggap layak mendapatkan tempat khusus dalam hidupku, ternyata aku salah.

Ranu lebih banyak diam, dan itu sangat menyiksaku, sakit yang aku rasakan lebih sakit dari kata putus atau pertengkaran hebat setelah bertahun-tahun menjalin hubungan baik. Secara emosional sikapnya adalah suatu kekejaman yang bisa berakibat fatal, seandainya dia paham.

Hari terakhir liburan aku sudah sampai pada titik jenuh. Kubiarkan ia sesuka hatinya, kembali sibuk dengan gadget, entah chating dengan siapa aku sudah tidak peduli. Lebih baik aku pergi dari kehidupannya daripada memaksakan diri bersama, tapi dia tak pernah menganggap aku ada.

Hingga kereta malam membawa kami meninggalkan kota yang seharusnya menyimpan kenangan indah, membuat aku ingin kembali, aku harus menguburnya pada kedalaman yang tidak bisa kutemukan lagi. Ketika kereta sampai di Stasiun Perujakan, berharap dia mengantarku dengan ucapan selamat tinggal atau berpesan supaya berhati-hati karena hari sudah hampir tengah malam, harus kutepis. Ranu menurunkan tasku, kemudian dia kembali duduk tanpa menoleh sedikit pun. Aku masih menunggu, sampai kereta berlalu membawanya kembali ke Jakarta, Ranu bergeming.

Aku terduduk di peron, seketika itu hatiku runtuh, harga diriku seperti terjun bebas dari puncak menara suar. Bagaimana hancurnya tidak hanya berkeping-keping, tetapi menjadi serpihan remuk nyaris tak berbentuk. Air mataku kembali tumpah, entah berapa lama aku memandangi rel kereta yang sudah kosong. Dadaku tak selapang yang kuduga, hatiku tak sebesar yang kukira, dan aku belum rela kehilangan dia…

“Ranu, kamu tau kenapa namaku Anggit?”

 

Jogjakarta, Juli 2019

 

Penulis: Lilis Juwita

Komentar

Berita Terkait