Pertamina telah menambah kuota 3 kilogram elpiji sebesar 100%.

Kekurangan elpiji 3 kilogram di Surakarta masih berlanjut hingga kemarin. Pantauan Tempo di fasilitas penyimpanan elpiji 3 kilogram di Sekarpace dan Mojosongo, Jebres, menunjukkan stok gas melon sudah menipis. Di pangkalan, tidak ada apa-apa selain tumpukan tabung kosong.

Joko Supeno, pengelola pangkalan elpiji Sekarpace, menyatakan pihaknya menerima 50 tabung gas setiap hari, namun dalam hitungan menit bisa diselesaikan. “Permintaan dari masyarakat meningkat,” tandasnya. Dia meyakini kenaikan permintaan tersebut akibat kenaikan harga elpiji 12 kilogram. “Selain pelanggan, ada banyak pembeli asing.”

Sukastun, pemilik pangkalan di Mojosongo, mengakui pengiriman elpiji 3 kg yang diberi nama melon gas itu berjalan lancar. Di sisi lain, permintaan meningkat. Sebelumnya, 30 silinder tersedia untuk dijual selama dua hari; sekarang, persediaan segera habis setelah mereka tiba. “Begitu mereka tiba, mereka diserang.”

Budi Prasetyo, Ketua Divisi Elpiji Persatuan Pengusaha Migas Nasional 3 Kilogram Surakarta, menyatakan pasokan tambahan akan disediakan untuk mengatasi kekurangan pasokan. “Jum’at ini tambah 50%, minggu depan tambah 100%,” perintahnya.

PT Pertamina, yang memasarkan gas di Jawa Tengah dan DIY, mengaku orang kaya mengonsumsi gas bersubsidi. “Inilah mengapa 3 kilogram gas selalu cepat habis dan langka,” kata Robert Marchelino Verieza Dumatubun, Asisten Manajer Hubungan Eksternal PT Pertamina Jateng dan DIY.

PT Pertamina tidak dapat mengontrol distribusi dan penjualan minyak tanah bersubsidi, hal ini bertentangan dengan kebijakan pemerintah sebelumnya yang mengatur distribusi minyak tanah bersubsidi. “Dulu, pengguna minyak tanah diwajibkan membawa kartu kendali agar bisa dimonitor,” jelas Robert.

Menurut Robert, harga unsubsidized gas 12 kilogram mencapai Rp 85 ribu, sedangkan 3 kilogram harganya hanya Rp 15 ribu. Kenaikan harga adalah alasan utama orang kaya membeli gas bersubsidi.

Situasi semakin kacau ketika mekanisme distribusi lapangan sering dimanipulasi oleh pengecer yang menjual gas bersubsidi kepada orang kaya. Pertamina tidak tersedia untuk SPBE, agen, atau pangkalan. Pengecer bersaing di user-by-user basis, ” tandasnya.

Untuk mempersiapkan kelangkaan, pemerintah Gunungkidul meminta tambahan kuota gas melon untuk libur akhir tahun. Siwi Irianti, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan ESDM Gunungkidul, mengatakan permintaan tersebut dilakukan oleh empat agen dengan kurang lebih 300 basis. “Permintaan konsumen mengalami peningkatan yang cukup signifikan, khususnya di kalangan pelaku usaha di kawasan wisata,” jelasnya.

Orang Kaya Mengkonsumsi Gas Melon
Orang Kaya Mengkonsumsi Gas Melon

Kandungan Gas Melon Berkurang

Berat tiga kilogram elpiji bersubsidi ditengarai tidak tepat. Pedagang makanan di kawasan Widarapayung, Kecamatan Binangun, Cilacap, mengeluhkan hal itu.

Tamyis, 30, seorang pedagang, meragukan berat gas melon yang dibelinya. Satu tabung gas seberat 3 kilogram yang tadinya tahan 2-3 hari kini hanya bertahan beberapa jam. Memang, dia pernah mencoba merebus air dengan gas melon dan dengan cepat kehabisan. “Saya curiga ada agen yang dibohongi. Soalnya cepat habis,” ujarnya kemarin.

Kecurigaan ini diperkuat dengan adanya jarum pada regulator silinder yang menandakan reservoir gas belum terisi penuh. Memang, Tamyis mengaku berusaha membeli gas di berbagai lokasi pengecer berbeda. “Hasilnya identik. Jarum tidak menunjukkan kepenuhan dan cepat habis.”

Pedagang lain, Jatmiko, 45 tahun, mengatakan hal yang sama. “Aneh kok gasnya cepat habis. Ini tidak biasa,” ujarnya. Jatmiko memohon kepada pemerintah daerah agar tegas dan melakukan investigasi terhadap penurunan berat badan akibat gas melon. “Kami berharap pemerintah daerah segera bertindak,” tandasnya.

Kepala Divisi Pertambangan Sumber Daya Air, Energi, dan Sumber Daya Mineral Bina Marga, Banu Nugroho, mengaku belum menerima laporan dari warga. Namun, dia berjanji akan segera melakukan penyelidikan. “Jika ini benar, kami akan memastikan siapa yang bertindak.”